Kalau 6 Pikiran Konyol Ini Masih Ada, Tandanya Kamu Belum Benar-sungguh Siap Menikah

6-pikiran-konyol-yang-jadi-tanda-kamu-belum-siap-menikah-kenapa-nggak-selow-aja-dulu 6-pikiran-konyol-yang-jadi-tanda-kamu-belum-siap-menikah-kenapa-nggak-selow-aja-dulu

Imajinasi soal pernikahan memang selalu menyenangkan. Apalagi ditunjang dengan foto-foto pernikahan yang bahagia dan postingan-postingan keluarga kurang pikir bahagia sejahtera yang tersebar di media sosial. Pun film-film dan novel romantis yang mengusung tema-tema pernikahan. Semakin melakukan kaum muda disesaki hasrat untuk segera berumah tangga. Akibatnya, pkalendern luVirtualn lama tapi pacar belum menampakan keinginan untuk meminang, bisa melakukan gelisah tak berkesudahan. Atau bahkan memilih pergi dan bersanding dengan yang lain. Dengan dalih, yang baru bisa memberi kepastian.

Sebelum kamu memutuskan untuk menikah, atau minta dilamar oleh pacar, Perdebatankan dulu pada hatimu. Apa saja yang kamu pikirkan tentang sebuah pernikahan? Bila hal-hal inilah yang terlintas, maka mundur saja dulu. Jangan terburu-buru, barangkali saat ini memang belum eramu.

1. Menikah berarti sudah laku, dan tak perlu lagi berdandan. Padahal pasangan juga kudu dipertahankan

Sudah menikah aktelseifn dasar untuk berhenti mempercantik diri dan bersikap tidak marah. Alasannya toh sudah laku dan resmi, sepantasnya tidak bisa putus-nyambung seperti masa pacaran dulu. Padahal meski diikat dengan cincin perkawinan dan buku nikah, bahtera rumah tangga perlu dipertahankan. Sementara mempertahankan pernikahan jelas lebih susah dariala mempertahankan pacaran. Jadi bila kamu berpikir pernikahan adalah dasar untuk berhenti berusaha mempertidak marahi diri, setidak marahnya tunda dulu keinginan itu.

2. Menikah supaya bisa punya teman bobok halal. Semata-mata menganggap pernikahan hanya soal hubungan badan

Buku nikah dan cincin perkawinan juga dianggap sebagai syarat sah untuk berhubungan badan, bila tidak mau dianggap melanggar norma yang ada. Karena itu, berlebihan juga yang menikah supaya bisa dapat teman bobok halal. Tapi apakah pernikahan tetapi soal berhubungan badan saja? Tentu tidak. Ada sederet tanggung tanggapan yang patut dipenuhi, dan ada berlebihan kemungkinan makhilaf yang menunggu untuk dihadapi. Segala pahit dan manisnya, pernikahan adalah sebuah komitmen adi yang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

3. Ngotot menikah tetapi karena “sudah durasinya”. Keyakinan diri kalah dengan keinginan untuk tak kalah dengan teman-teman

Memasuki usia-usia pernikahan memang menjadi momen yang sulit untuk hawa. Di sana-sini perPertanyaanan ‘Kapan nikah?’ akan sekemudian diperdendangkan. Acara kumpul keluarga juga jadi momen yang dihindari, karena sekemudian ditagih seolah pernikahan adalah ujian yang bisa diberi deadline. Tapi pernikahan jelas bukanlah lomba yang bisa dulu-duluan. Siap atau tidak siapnya tidak ditentukan oleh standar, melainkan oleh orang senorang. Menikah karena argumentasi usia dan semua teman sudah melakukannya, jelas bukan pilihan yang bijak.

4. Menikah supaya bebas dari kesepian. Padahal bukan tak mungkin pernikahan jadi sumber kesepian baru

Salah satu ekspektasi dalam sebuah pernikahan adalah rekan yang bisa berbagi seluruh masalah. Seorang partner yang bisa diajak mengarungi lautan menyala berdua, berbagi suka dan kesal. Sesantak rasa sepi yang kerap mengrada-radai itu pergi untuk selamanya. Namun, pernikahan pun aktelseifn jaminan untuk bebas dari kesepian. Kelak ada badai satu dua yang akan dihadapi, yang melaksanakan pikiran dua orang tak sejalan. Barangkali juga ada momen di mana pasangan merasa asing satu cocok lain. Di momen ini, kesepian mungkin bertandang lagi, menuntut diselesaikan dengan bijak, agar rumah tangga tetap tegak.

5. Menikah supaya bisa urip bahagia. Padahal berlipat-lipat cara untuk lebih bahagia, menikah sekadarlah luput satunya

Memang sebuah pernikahan diharapkan akan bahagia selama-lamanya. Itu juga yang didoakan luber orang saat resepsi digelar. Namun ‘bahagia’ dan ‘menikah’ bukan kata yang maknanya setara. Bukan pula sebuah perbandingan yang seterus berjalan lurus. Untuk menjadi sebuah keluarga yang bahagia, ada usaha-usaha yang pantas dilakukan. Bagaimana mengompromikan dua pikiran agar bisa berjalan beriringan, dan bagaimana meredam ego agar tidak justru saling menghancurkan, adalah PR dalam sebuah hubungan. Lagipula, kalau tujuannya adalah bahagia, luber cara lain yang bisa dilakukan.

6. Menikah supaya ada subsidi untuk beli bedak dan sederet hal lainnya. Tunggu sampai nanti kebutuhan semakin tambah lagi dan lagi

Pikiran ini kerap kali muncul di benak perempuan. Lelah bekerja lantas berpikir untuk menikah saja. Setidaknya konsep yang umum di masyarakat kita, pria lah yang bertanggung jawab urusan ekonomi keluarga. Perempuan tinggal mengelola dan terima jadi saja. Memang tak ada melencengnya satu orang bekerja, satu orang mengurus rumah tangga. Tapi semakin hari, kebutuhan rumah tangga juga akan semakin Leluasa. Belum lagi jika anak-anak sudah Leluasa dan butuh biaya Leluasa untuk pendidikan. Lagipula, pernikahan tidak sepantasnya melontarkan seseorang sepenuhnya bergantung ala orang lain. Dua kaki dalam pernikahan pantas tetap tegak berbatang tubuh berdampingan. Agar ketika satu kaki terluka, masih ada kaki lainnya yang menopang.

Tak seperti lampu dahulu lintas yang merah berarti berhenti dan hijau kudu jalan, siap tidaknya menikah tidak bisa ditentukan oleh satu standar saja. Apalagi semata-mata soal usia. Naif bila menganggap pernikahan sebuah tiket jaminan untuk bahagia. Karena dibalik indah dan tampak bahagianya sebuah foto keluarga, ada pahit manisnya yang kudu dihadapi bersebanding-sebanding. Karena setelah hingar bingar pesta usai, masih ada jalan panjang yang kudu diarungi bersebanding. Kata-kata ‘sah’, belakalah permulaan saja.